Salah satu acara paling menarik dan paling inti yang terselenggara dalam Festival Babad Banyumas 2026 adalah Begalan Jaka Kahiman. Kesenian ini dilakonkan oleh grup Begalan Cipto Kawedar pada malam puncak perayaan di Hari Sabtu, malam Minggu (26/9/2026).

Penautan nama Jaka Kahiman ini memang bukan tanpa sebab. Kang Nassirun Purwokartun sebagai inisiator penyelenggara, memang sengaja menceritakan kisah asal mula seni begalan yang ternyata muncul sejak era Jaka Kahiman.

“Salah satu tujuan utama penyelenggaraan Festival Babad Banyumas ini adalah untuk mengenalkan asal mula seni Begalan. Di mana setelah mendirikan Kadipaten Banyumas, tak lama kemudian Jaka Kahiman menikahkan anaknya, Ngabehi Janah dengan putri Ki Ageng Gumelem yang bernama Rara Warsiki”, ungkap Kang Nass.

Dalam malam perayaan tersebut, diceritakan bagaimana kisah berbesanannya pemimpin pertama Banyumas dengan pemimpin pertama Gumelem. Tapi pengisahan cerita masa lalu ini dilakukan dengan terobosan yang begitu menarik, yaitu dengan menggunakan media wayang.

Ki Ulum Karto Diwiryo yang dipercaya mendalangi Wayangan Babad Banyumas, menceritakan dengan cukup detail cerita yang ada di dalam Babad Banyumas. Dimulai dari pengangkatan Jaka Kahiman sebagai Adipati Wirasaba terakhir, dan dipamungkasi oleh cerita Ngabehi Janah yang kemudian menikah dengan Rara Warsiki.

Kemudian setelah pementasan Wayangan Babad Banyumas selesai, giliran aksi Begalan oleh grup Cipto Kawedar. Sesuai judul pementasannya yang berbunyi Begalan Jaka Kahiman, aksi begal sarat makna ini juga mengisahkan serta menggambarkan peristiwa begalan yang terjadi saat Jaka Kahiman mantu dulu.

Aksinya yang lucu blakasuta khas Banyumasan, menyebabkan gelak tawa dari ribuan penonton turut mewarnai jalannya begalan. Tapi tentu tak hanya menjunjung ciri khas lawakan, melainkan juga turut membawa pesan-pesan pernikahan, dengan ditambah pengetahuan tentang kesejarahan yang diselipkan.

Dalam malam puncak perayaan tersebut, selain Wayangan Babad Banyumas dan Begalan Jaka Kahiman, juga diisi dengan penampilan musik tradisional Banyumas. Di awal acara, Gubrak Lesung Rebana bergema, menunjukkan kolaborasi harmonis antara seni kaum agraris dengan seni kaum santri. Sedangkan sebagai pamungkasnya, Kenthongan Banyumasan bergema kencang dengan berbagai lagunya.

Perlu diketahui, Festival Babad Banyumas 2026 terselenggara selama tiga hari, yaitu sejak Hari Jum’at (25/9) sampai Hari Minggu (27/9), dengan berbagai acara yang berbau seni budaya.

Hari pertama bertempat di Bale Babad Banyumas, dengan esensi acara untuk pelestarian dongeng. Hari kedua dibagi menjadi dua waktu dan dua tempat. Pagi hari fokusnya untuk pelestarian babad yang bertempat di Bale Babad Banyumas, sedangkan malamnya bertempat di Lapangan Desa Mandirancan dan diisi dengan rangkaian acara pelestarian sejarah berbalut pelestarian seni budaya.

Dan untuk hari ketiga atau terakhirnya, bertempat di Taman Kalimambu Desa Mandirancan, dengan esensi acara untuk pelestarian mata air Kalimambu yang diisi dengan rangkaian gubrak lesung rebana, Melukis panggih warih, serta Wayangan Panggih Warih.