Festival Babad Banyumas 2026, ternyata tak hanya berupa agenda yang bertujuan untuk pelestarian budaya serta sejarah, tapi juga bertujuan untuk pelestarian sumber daya alam.

Jadi, pada agenda yang terselenggara selama tiga hari tersebut, sebenarnya semuanya bertemakan kebudayaan. Akan tetapi, esensi kandungannya berbeda-beda. Misalnya pada malam puncak perayaan di hari kedua, walaupun secara lahir terlihat kental dengan seni budaya, tapi turut membawa pesan mendalam terkait sejarah Banyumas.

Adapun agenda pelestarian alam dengan kemasan budaya, dilaksanakan pada hari ketiga atau hari pamungkas. Pada hari ketiga itu, acaranya adalah Wayangan Panggih Warih, melukis panggih warih, serta diiringi lantunan musik dari gubrak lesung rebana.

Panggih Warih secara bahasa berarti pertemuan air. Istilah ini sengaja digunakan oleh Kang Nassirun Purwokartun, sebagai inisiator acara, karena tujuan agenda hari ketiga ini adalah untuk pelestarian sumber daya alam, yang dalam hal ini mengerucut pada sumber daya air.

Ceritanya, beberapa ratus meter dari Bale Babad Banyumas, ada hutan yang dijuluki sebagai Hutan Kalimambu. Penamaan Kalimambu tersebut, karena di sana ada dua sumber mata air yang bernama Kalimambu Lanang dan Kalimambu Wadon.

Akan tetapi, adanya sumber mata air potensial itu cenderung tidak terurus. Beberapa tahun sebelumnya, pernah diselenggarakan Upacara Panggih Warih yang juga diinisiatori oleh Kang Nassirun. Tujuannya sebagai kampanye penyelamatan air.

Sayangnya, beberapa tahun pasca itu, dua mata air ini kembali kurang terurus. Maka, di tahun 2026 ini akhirnya kembali digalakkan penyelamatan mata air Kalimambu, dengan dimasukkannya ke dalam rangkaian Festival Babad Banyumas 2026.

Pada acara tersebut, ternyata terlihat jauh lebih meriah dari yang sebelumnya disenggarakan pada tahun 2021. Dari yang sebelumnya tidak ada wayangan, kini diselenggarakan wayangan yang menceritakan pernikahan air.

Acara tersebut diawali dengan pengambilan ‘sampel’ mata air Kalimambu Lanang dan mata air Kalimambu Wadon. Setelah diambil, kemudian keduanya disatukan dalam kendi, dan didoakan oleh tokoh setempat, sebagai simbolis pernikahan air.

Kemudian setelah itu, digelarlah Wayangan Methuk Sandekala oleh Ki Ulum Karto Diwiryo, dengan bertemakan Babad Panggih Warih. Babad karya Kang Nassirun Purwokartun ini berisi tentang pernikahan mata air Kalimambu Lanang dan Kalimambu Wadon, yang dibuat dalam rangkaian cerita menarik.

“Ketika kekeringan melanda pada tahun 2021, sumber mata air Kalimambu tidak terurus. Saya tulis Babad Panggih Warih sebagai sarana kampanye penyelamatan mata air. Saya pentaskan dalam Hari Air Sedunia. Dan pementasan Wayangan Panggih Warih yang terselenggara kali ini, juga akan menjadi acara rutin ke depannya, agar kampanye menjadi lebih menarik dan lebih diperhatikan banyak orang”, ujar Kang Nass.

Jadi intinya, para penonton yang hadir diajak untuk ikut peduli dalam upaya pestarian sumber daya air, yang dalam hal ini mata air Kalimambu Lanang dan Kalimambu Wadon, menjadi objek contohnya.

Apalagi saat acara ini dilangsungkan, iklim setempat sedang kemarau cukup panjang. Sehingga kampanye ini memang penting untuk diketahui oleh banyak orang, guna mengedukasi tentang bagaimana pemanfaatan mata air yang potensial untuk dikembangkan dan dilestarikan.