Banyak orang yang belum tau, bagaimana proses berdirinya Kabupaten Banyumas. Karena banyak yang belum tau, maka banyak yang ingin tau. Dan salah satu bacaan untuk mengetahuinya adalah Babad Banyumas.

Tapi, orang-orang dulu kebanyakan tau isi Babad Banyumas bukanlah dari membacanya langsung, melainkan dari dongeng para orang tua dan dari cerita yang dipentaskan dalam lakon ketoprak.

Dan seiring berjalannya waktu, ketoprak sebenarnya masih banyak bertahan, namun hanya sebagai nama olahan makanan. Adapun ketoprak sebagai nama kesenian yang menceritakan berbagai cerita rakyat maupun sejarah, lambat laun tergeser oleh berbagai teknologi yang fungsinya sama dengan ketoprak, seperti layar lebar, televisi, hingga gadget yang kian merajalela.

Oleh karena itu, budayawan Banyumas Nassirun Purwokartun membuat terobosan baru dengan bagaimana caranya untuk membumikan Babad Banyumas, tapi dengan tetap memberi nuansa budaya Jawa yang kental.

Dan akhirnya, dipilihlah media wayang sebagai pengganti kesenian ketoprak. “Saya terpikir mengalihkan wahana, dari ketoprak ke wayang. Dengan pementasan wayang, masih memungkinkan. Karena tidak butuh banyak pemain, hanya butuh peraga wayang dan seorang dalang,” ujar Kang Nass.

Dan ide ini, oleh Kang Nass direalisasikan dalam acara yang bertajuk “Festival Babad Banyumas”, yang diselenggarakan selama 3 hari berturut-turut mulai dari 25-27 September 2026 di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas.

Hari pertama atau Hari Jum’at (25/9/2026) diisi dengan Dongeng Babad Banyumas, Pameran Wayang Babad, dan Menggambar Wayang Dongeng. Pada intinya, esensi dari acara hari pertama ini bertujuan untuk pelestarian dongeng, khususnya bagi kalangan anak-anak SD hingga mahasiswa.

Kemudian pada hari kedua, atau Hari Sabtu (26/9/2026) terbagi atas dua esensi acara. Pagi sampai siang, difokuskan untuk pelestarian wayang babad. Dalam rangkaiannya, ada pameran Wayang Babad, menggambar Wayang Babad, dan pameran Cover Babad.

Adapun Hari Sabtu malamnya atau Malam Minggu, merupakan puncak dari acara Festival Babad Banyumas. Isinya adalah rangkaian kegiatan inti, mulai dari penampilan Gubrakan Lesung Rebana, Wayangan Babad Banyumas, Begalan Jaka Kahiman, dan Kenthongan Banyumasan.

Gubrak Lesung Rebana dimainkan oleh grup Pangastuti yang dikelola langsung oleh Ibu Yuli Astuti, istri Kang Nassirun Purwokartun. Kolaborasi antara alunan lesung dengan rebana memang sengaja dipilih, karena bertujuan untuk memadukan serta menyelaraskan antara hiburan kaum petani dengan hiburan kaum santri.

“Dua kesenian itu saya gabungkan dengan maksud tidak membedakan antara dua kutub itu. Semuanya mengajak untuk memperbaiki diri. Lesung adalah musik yang tidak bernada, serta tidak mengenal solmisasi. Begitupun dengan rebana, yang tidak bernada, tidak mengenal solmisasi juga. Maka saya berharap bisa memadukannya, bisa selaras bersama, bisa bekerja sama”, ujar Kang Nass.

Selain Gubrak Lesung Rebana, untuk kesenian musik juga diisi dengan Kenthongan Banyumasan, dari grup Kenthongan Bambu Nada, juara Festival Kenthongan banyumas 2026.

Kemudian ada Begalan Jaka Kahiman, yang dilakonkan oleh tim Begalan Cipto Kawedar. Selain sebagai bentuk pelestarian Warisan Budaya Tak Benda, penampilan ini juga bernuansa sejarah. Karena ternyata, begalan ini memperagakan begalan yang terjadi saat pernikahan putra Ngabehi Janah dengan putri Ki Ageng Gumelem.

Jadi, dalam Babad Gumelem diceritakan bahwa Jaka Kahiman memiliki anak bernama Ngabehi Janah. Dan Ki Ageng Gumelem memiliki anak bernama Rara Warsiki. Pada prosesi pernikahan antara Ngabehi Janah dengan Rara Warsiki itu, terjadi peristiwa yang melatarbelakangi begalan, hingga akhirnya bertahan sampai saat ini sebagai sebuah kesenian sarat makna.

Lalu untuk Wayangan Babad Banyumas, didalangi oleh Ki Ulum Karto Diwiryo. Adapun ceritanya adalah seperti yang sudah disinggung di atas, yakni terkait perpindahan ibukota Wirasaba ke Banyumas dan proses berdirinya Kabupaten Banyumas. Serta dipamungkasi dengan cerita Ngabehi Janah yang kemudian menikah dengan Rara Warsiki.

Walaupun malam puncak perayaan sudah dilangsungkan, bukan berarti acara sudah berakhir, karena Minggunya masih berlanjut lagi acara yang tak kalah menarik. Sore hari sekitar jam 15.30, dilangsungkanlah Gubrak Lesung Rebana, Melukis Panggih Warih, serta Wayangan Methuk Sandekala oleh dalang yang sama yakni Ki Ulum Karto Diwiryo, yang menceritakan Babad Panggih Warih atau tradisi pelestarian melalui pernikahan mata air.

Panggih Warih secara harfiah berarti pertemuan air. Latar belakang upacara panggih warih ini terjadi pada tahun 2021. Jadi saat itu terjadi kekeringan, dan sumber mata air kalimambu juga tidak terurus.

Maka ditulislah Babad Panggih Warih oleh Kang Nass sebagai upaya kampanye penyelamatan mata air. Dan pementasan Wayang Babad Panggih Warih ini, kedepannya akan menjadi kegiatan rutin.

“Saya tulis Babad Panggih Warih sebagai sarana kampanye penyelamatan mata air. Saya pentaskan dalam Hari Air Sedunia. Dan pementasan Wayangan Panggih Warih, akan menjadi acara rutin ke depannya”, ujar Kang Nass.

Kesimpulan dari acara Festival Babad Banyumas 2026 ini adalah Kang Nassirun Purwokartun berhasil membuat terobosan baru seiring dengan semakin menghilangnya cerita Babad Banyumas dalam kesenian ketoprak.

Dan uniknya, terobosan tersebut sukses dilakukan dengan mengketoprakkan Babad Banyumas menggunakan analogi ketoprak versi olahan makanan. Babad Banyumas ibaratnya adalah tahu dan ketupat, lalu Kang Nass membumbuinya dengan kolaborasi aneka pelengkap yang membuatnya menjadi ketoprak yang tetap nikmat untuk disantap banyak orang.