Biasanya, begal memang ditakuti, karena identik dengan aksi pencurian disertai kekerasan yang membahayakan nyawa. Tapi di sisi lain, justru ada begal yang jadi tontonan menarik, khususnya bagi masyarakat Suku Jawa, namanya kesenian begalan.
Kesenian Begalan biasanya ditampilkan dalam perayaan pernikahan Jawa. Tidak hanya berupa hiburan, tapi dalam begalan juga memberikan pesan-pesan bekal pernikahan bagi kedua mempelai.
Dan di Lapangan Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, baru saja menampilkan begalan dengan meriah. Tapi begalan yang digelar bukan seperti begalan pada pesta pernikahan biasa, melainkan “Begalan Jaka Kahiman” dalam rangkaian acara bertajuk Festival Babad Banyumas 2026.
Perlu diketahui, Festival Babad Banyumas 2026 terselenggara selama tiga hari, sejak hari Jum’at (25/9/2026) sampai dengan hari Minggu (27/9/2026). Hari pertama berfokus pada pelestarian dongeng, hari kedua berfokus pada pelestarian babad, sedangkan hari ketiga berfokus pada pelestarian alam.
Adapun untuk puncak perayaan dilaksanakan pada hari kedua, tepatnya malam Minggu. Pada malam puncak perayaan, ada pentas kolaborasi empat kesenian, yaitu Gubrak Lesung Rebana oleh grup Pangastuti, Wayangan Babad Banyumas oleh Ki Dalang Ulum Karto Diwiryo, Begalan Jaka Kahiman oleh grup Cipto Kawedar, dan Kenthongan oleh grup Bambu Nada.

Dan kembali terkait Begalan Jaka Kahiman, begalan ini ditampilkan dalam kemasan yang bernuansa sejarah kental. Pasalnya, begalan yang dilakonkan oleh Grup Cipto Kawedar itu memperagakan kejadian begalan pada saat Jaka Kahiman mantu. Yang menjadi wakil dari Rara Warsiki memperagakan tokoh Reka Guna, sedangkan yang menjadi wakil Ngabehi Janah memperagakan Ki Nitipraya.
Lalu, terkait diadakannya Begalan Jaka Kahiman dalam rangkaian acara, dan bahkan menjadi judul utama pada ‘flyer’, memang sesuai dengan tujuan Festival Babad Banyumas 2026. “Salah satu tujuan penyelenggaraan Festival Babad Banyumas ini adalah untuk mengenalkan asal mula Begalan Banyumas. Tidak lama setelah mendirikan Kadipaten Banyumas, Jaka Kahiman menikahkan anaknya Ngabehi Janah dengan Rara Warsiki, putri Ki Ageng Gumelem”, ujar Kang Nass.
Walaupun menyampaikan cerita sejarah ataupun pesan-pesan mendalam, tapi Begalan Jaka Kahiman ini tidak meninggalkan karakteristik Banyumasan yang blakasuta. Dan karena blakasuta, dalam penyampaian ucapannya pun cenderung blak-blakan, sehingga ciri khas lucu tetap melekat dengan kuat. Bahkan ribuan penonton pun begitu terhibur dengan gelak tawa yang dirautkan dalam wajahnya.